Sunday, July 25, 2010

Rangers Goes To Village

Dewasa ini, istilah ‘Pertanian Berkelanjutan’ semakin sering digunakan. Sebagian orang mungkin pusing dengan kata tersebut. Oleh karena itu, perlu dijelaskan secara ringkas dan padat perihal pengertian istilah ‘Pertanian Berkelanjutan’ (Sustainable Agriculture).

Penjelasan berikut ini disarikan dari dua buku: (1) karangan Coen Reijntjes, Bertus Haverkort, dan Ann Waters-Bayer, Farming for the Future: An Introduction to Low-External-Input and Sustainable Agriculture, Netherland: ILEIA, 1992; dan (2) buku karangan Jules N Pretty, Regenerating Agriculture: Policies and Practice for Sustainability and Self-Reliance, London: Earthscan, 1996.

Kata ‘berkelanjutan’ (sustainable), sebagaimana dalam kamus, mengacu pada makna “mengusahakan suatu upaya dapat berlangsung terus-menerus, kemampuan menyelesaikan upaya dan menjaga upaya itu jangan sampai gagal”. Dalam dunia pertanian, ‘berkelanjutan’ secara mendasar berarti upaya memantapkan pertanian tetap menghasilkan (produktif) sembari tetap memelihara sumber daya dasarnya.

Sebagai contoh, Komite Penasehat Teknis Grup Konsultatif Riset Agraria Internasional (TAC/CGIAR) 1988) menyatakan, “Pertanian berkelanjutan adalah manajemen sumber-sumber daya secara berhasil bagi agraria untuk mencukupi perubahan-perubahan kebutuhan manusia sembari tetap merawat dan meningkatkan kualitas lingkungan dan perbaikan sumber-sumber daya alam.”

Dengan demikian, pertanian berkelanjutan merupakan suatu pilihan lain atau “tandingan” bagi pertanian modern. Akan tetapi, sebagai tandingan bagi pertanian modern, selain kata berkelanjutan, ada juga yang menggunakan istilah:

  1. pertanian alternatif,
  2. regeneratif,
  3. input eksternal rendah,
  4. bekelanjutan input rendah,
  5. bekelanjutan input seimbang,
  6. conservasi-sumber daya,
  7. biologis,
  8. alamiah,
  9. pertanian ekologis (ramah lingkungan),
  10. agro-ekologis,
  11. pertanian organis,
  12. biodinamis, dan lain sebagainya.

Baik pertanian berkelanjutan dan berbagai istilah lainnya, umumnya mengandung suatu makna penolakan terhadap pertanian modern. Penolakan itu karena pertanian modern diartikan sebagai cara bertani yang menghabiskan sumber daya, pertanian industri, dan pertanian input eksternal tinggi atau intensif.

Sebagai gambaran sederhana, pertanian modern memakai masukan (input) luar seperti pupuk pabrik, bibit pabrik, pestisida dan herbisida kimia pabrik, yang umumnya merusak kelestarian tanah dan alam. Sebaliknya, suatu pertanian berkelanjutan lebih mengandalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia seperti bibit lokal, sumber air, matahari, dan teknologi yang ramah lingkungan; dan juga sangat mengutamakan pemanfaatan pupuk kandang (kompos) dan pengendali hama alami atau pestisida dari bahan-bahan alami.

Oleh karena itu, inti pemahaman pertanian berkelanjutan adalah sangat mengutamakan pemanfaatan sumber daya lokal beserta pengetahuan lokal.

Untuk lebih memudahkan pemahaman, Nicanor Perlas mengembangkan konsep pertanian berkelanjutan ILEIA (buku Farming the for Future); dan Perlas berhasil merumuskan Tujuh Dimensi Pertanian Berkelanjutan (baca: Nicanor Perlas, “The Seven Dimensions of Sustainable Agriculture“, makalah pada Konferensi Internasional II Forum Pembangunan Asia yang diadakan ANGOC di Filipina, tanggal 22-26 Februari 1993).

Dari berbagai bahan tersebut, penulis mencoba menyadur tujuh dimensi pertanian berkelanjutan tersebut ke dalam Bahasa Indonesia yang mudah dipahami, sebagaimana berikut ini.

Pertanian berkelanjutan harus menjadi pertanian:

  1. Ramah Lingkungan;
  2. Menggairahkan kehidupan ekonomi;
  3. Adil dan layak secara sosial;
  4. Peka pada nilai budaya;
  5. Mampu mengembangkan teknologi tepat guna;
  6. Mampu menjadi pengetahuan yang menyeluruh;
  7. Menjadi obor bagi kemanusiaan.

Namun, semua itu tidak berarti tanpa menyadari bahwa pilar terpenting dari pertanian berkelanjutan, selain lingkungan alam, adalah manusia. Pertanian berkelanjutan akan terwujud bila manusia bersungguh-sungguh memahami bahwa cita-cita pertanian berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila dilandasi suatu pembaruan atau reformasi atas sumber-sumber daya alam dan agraria di mana rakyat secara adil dan setara dapat merasakan dan memanfaatkannya.

~ oleh petanidesa di/pada Februari 3, 2007.

Wednesday, July 7, 2010

Thursday, July 1, 2010

3 Hal Baik untuk Dilakukan Pemerintah demi Sehatnya Internet Indonesia

Ada 3 (tiga) hal baik yang dapat dan sepatutnya dilakukan pemerintah untuk mengatasi dampak dan maraknya konten negatif di Internet, demi terwujudnya Internet Sehat di Indonesia. Yaitu (1). meningkatkan tumbuhnya konten lokal yang sehat, (2). mendorong tersedianya akses Internet jalur sehat bagi keluarga, dan (3). melakukan edukasi sejak dini tentang self-censorship ala Internet Sehat kepada anak, keluarga dan pengguna Internet pemula.

Berikut ini sedikit paparan dari 3 (tiga) hal di atas:

-

(1). Secara bertahap, tumbuhnya konten lokal yang sehat akan dapat mengimbangi, menekan dan bahkan meminimalisir dampak dan keberadaan konten negatif yang ada di Internet. Dengan semakin meningkatnya jumlah, mutu dan keragagaman konten lokal di Indonesia, maka pengguna Internet dalam negeri akan dapat didorong untuk dapat mengakses dan menikmati konten situs lokal. Tentu saja selain untuk ber-Internet Sehat, upaya ini akan dapat menghemat biaya bandwidth ke luar negeri dan untuk menghindari beragam hal negatif yang kerap mendompleng situs luar negeri seperti trojan, virus, spyware hingga pornografi. Salah satu program yang dapat dicontoh dan dikembangkan untuk meningkatkan minat menghasilkan konten lokal adalah Internet Sehat Blog Award.

-

(2). Pemerintah pun ada baiknya meggiatkan industri dalam negeri yang dapat mendukung program penyehatan Internet bagi keluarga dan sekolah. Berikut ini adalah beberapa produk atau layanan dari Internet Service Provider (ISP) yang sejalan dengan semangat Internet Sehat:

  1. iControl Internet Sehat Aman dari CBN (Layanan ISP)
  2. Mobi Internet Sehat dari Mobile-8 (Layanan ISP)
  3. FastNet Kids dari First Media (Layanan ISP)
  4. Internet Safe dari Indosat-M2 (Layanan ISP)
  5. Fitur Internet Sehat dari TelkomNet Instan (Layanan ISP)

Ke-5 contoh ISP di atas adalah salah satu bentuk tanggungjawab para pelaku industri Internet di tanah air untuk memberikan akses Internet jalur sehat yang dapat digunakan oleh keluarga. Daripada energi pemerintah dilakukan untuk memaksa ISP melakukan pemblokiran (dengan konsekuensi ijin ISP dicabut jika tidak patuh), maka akan lebih jitu dan bermanfaat jika pemerintah meminta kepada Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) agar lebih banyak ISP yang dapat memberikan alternatif jalur Internet yang sehat seperti telah dilakukan oleh ke-5 ISP di atas.

Karena banyak contoh kasus dimanapun, bahwa penyensoran, penyaringan ataupun pemblokiran akan cenderung tidak efektif, karena teknologi dilawan dengan teknologi. Selain itu penyensoran justru akan meningkatkan rasa penasaran orang (baca kolom: Censorship is Advertising Paid by The Government). Sekali lagi, jalan alternatif terbaik jika memang semangatnya ingin melindungi anak/murid dan keluarga/sekolah adalah dengan penyediaan akses Internet yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.

-

(3). Memberikan pemahaman tentang ber-Internet yang Sehat kepada anak-anak sedini dan seintensif mungkin sejak usia SD hingga SMP, akan memberikan bantuan kekebalan (imunitas) bagi mereka saat mereka menggunakan Internet dan kelak nanti mereka di usia produktif. Dengan kombinasi “vaksinasi” semisal ilmu agama, budi pekerti, etika hingga Internet Sehat, ini akan menjadi proteksi diri berbentuk self-censorship ala Internet Sehat yang jauh lebih efektif melindungi anak-anak dan generasi muda dari dampak konten negatif di Internet, ketimbang melakukan upaya penyensoran, penyaringan ataupun pemblokiran.

Dan alangkah indahnya jika materi tentang Internet Sehat dapat diajarkan sejak dini di sekolah-sekolah dan masuk menjadi bagian dari kurikulum standar. Pun diharapkan para ISP bisa menyediakan dan mendistribusikan informasi tentang Internet Sehat bagi pelanggan/pengguna layanannya, baik yang baru mendaftar ataupun yang sudah lama. Distribusi tersebut apakah dalam bentuk website, e-mail, buku saku (hardcopy), e-book ataupun link (tautan) ke informasi tentang Internet Sehat. Silakan download materi Internet Sehat dalam versi digital (e-book) dan bebas untuk digandakan serta didistribusikan seluas-luasnya.

-

[Donny B.U. / Internet Sehat]


Disusun Ulang Oleh:

1. Deden Anugrah H.

2. Arip Nurahman